Mengukur Manfaat dan Efektivitas Dana Desa

INDONESIASATU.CO.ID:

Sering kali kita mendengar bahwa arus urbanisasi setiap tahun mengalami peningkatan. Warga desa berduyun-duyun pergi ke kota untuk mendapatkan penghidupan yang lebih baik. Mereka berangapan bahwa mencari pekerjaan dan penghasilan di kota jauh lebih mudah ketimbang di desa walaupun kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan. Glamor kehidupan kota menambah daya tarik masyarakat desa untuk pergi ke kota. Berkurangnya lahan pertanian, tingkat pembangunan yang tidak merata, serta taraf hidup yang semakin menurun di desa menjadi faktor utama tingginya angka urbanisasi. Hal ini menjadikan tantangan tersendiri bagi pemerintah, untuk bagaimana meningkatkan pembangunan di desa sekaligus meningkatkan taraf hidup warga desa. Oleh karena itu, pemerintah berusaha menjawab permasalahan tersebut dengan cara mengalokasikan dana khusus untuk desa yang dikenal  dengan istilah Dana Desa.

Sejak diluncurkan tahun 2015, Pemerintah telah menggelontorkan ratusan triliun Rupiah Dana Desa, tepatnya Rp. 187 triliun. Tahun 2015, pemerintah menganggarkan Dana Desa sebesar Rp 20,67 triliun, kemudian meningkat di tahun 2016 sebesar Rp. 46,98 triliun. Sedangkan tahun 2017 dan 2018, Dana Desa dianggarkan sebesar Rp. 60 triliun. Dana Desa merupakan dana APBN yang diperuntukan bagi desa yang ditransfer melalui APBD kabupaten/kota dan diprioritaskan untuk pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masayarakat desa. Dana Desa merupakan amanat dalam UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, sebagai salah satu sumber pendapatan desa. Selain itu, Dana Desa juga masuk sebagai cita ke-3 dari Nawa Cita pemerintahan presiden Jokowi yaitu membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia. Oleh sebab itu, Dana Desa diharapkan menjadi ujung tombak pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.

Merujuk pada definis Dana Desa di atas, penggunaan Dana Desa dititikberatkan untuk membiayai pembangunan dan pemberdayaan masyarakat dengan tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa, peningkatan kualitas hidup manusia serta penanggulangan kemiskinan dan  perekonomian desa. Saat ini, penggunaan Dana Desa untuk pembangunan masih mendapat porsi yang lebih besar (70%) ketimbang untuk pemberdayaan masyarakat desa (30%). Kedepan proporsi penggunaan Dana Desa tersebut seharusnya dibalik sehingga  pemberdayaan masyarakat desa menjadi prioritas utama Dana Desa dengan cara melihat dan mengembangkan potensi yang ada di desa.

Secara nasional, penggunaan Dana Desa dari tahun 2015 - 2017 telah berkontribusi  dalam meningkatkan pembangunan desa berupa aspek penunjang aktivitas ekonomi dan aspek penunjang kualitas hidup masyarakat desa. Dari sisi aspek penunjang aktivitas ekonomi masyarakat desa, Dana Desa telah menghasilkan output berupa 158.691 kilometer jalan, 1.028.225 meter jembatan, 4.711 unit tambatan perahu, 14.770 kegiatan BUMDes, 6.932 pasar, 179.625 penahan tanah, 942.927 unit air bersih, dan 39.351 unit irigasi. Dari sisi aspek penunjang kualitas hidup masayarakat desa, telah dihasilkan output berupa pembangunan 18.477 posyandu, 8.028 polindes, 24.005.604 meter drainase, 178.034 fasilitas MCK, 48.694 unit gedung PAUD, 3.026 unit embung dan 37.662 unit sumur.

Presiden Jokowi, dalam beberapa kesempatan, menyatakan agar Dana Desa tidak hanya digunakan untuk pembangunan desa semata, melainkan juga harus mampu dipergunakan untuk memberdayakan masyarakat desa. Penggunaan Dana Desa harus dimulai dengan perencanaan yang baik dimana program-program yang ditetapkan dapat memberikan manfaat yang besar bagi desa. Untuk itu, peran serta seluruh masyarakat desa mutlak diperlukan, tidak hanya kepala desa dan perangkat desa, dalam menetapkan program-program yang dibiayai Dana Desa. Penetapan program dilaksanakan melalui musyawarah desa dimana semua komponen masyarakat dapat berpartisipasi memberikan saran dan masukan. Selanjutnya, saat pelaksanaan program, peran serta dan kontribusi masyarakat tetap diperlukan. Penggunaan Dana Desa untuk pembangunan fisik semaksimal mungkin dilakukan secara swakelola.  Mulai dari penggunaan tenaga kerja, bahan material, dan alat-alat kerja bersumber dari desa itu sendiri. Harapannya Dana Desa dapat berputar, menggerakkan perekonomian desa sehingga berdampak kepada penghasilan dan taraf hidup warga desa.

Memasuki tahun keempat pelaksanaan Dana Desa, telah banyak output yang dihasilkan baik itu perupa pembangunan fisik maupun pemberdayaan masyarakat desa. Tetapi, sebagai suatu program, Dana Desa haruslah juga dapat memberikan outcomes yang besar pula. Oleh karenanya, outcomes yang dihasilkan dari Dana Desa harus dapat diukur manfaat dan efektivitasnya. Untuk itu, diperlukan indikator-indikator yang jelas dan terukur, yang dapat menunjukkan keberhasilan Dana Desa. Selain itu, indikator-indikator tersebut dapat pula digunakan untuk melihat kekurangan-kekurangan yang terjadi pada Dana Desa. Suatu program belum tentu memiliki tingkat keberhasilan 100 persen sehingga perlu dilakukan evaluasi untuk penyempurnaan program tersebut kedepannya. Beberapa indikator yang dapat digunakan dalam mengukur manfaat dan efektivitas Dana Desa yaitu :

  1. Pendapatan perkapita/bulan;

Berdasarkan perhitungan yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), dinyatakan bahwa Dana Desa telah memberikan kontribusi signifikan pada peningkatan pendapatan per kapita/bulan masyarakat desa. Pada tahun 2014,pendapatan per kapita/bulan masyarakat desa sebesar Rp. 572.586, sedangkan di tahun 2018meningkat menjadi Rp. 804.011. Bila dihitung, terjadi peningkatan 140 persen selama 4 tahun Dana Desa dikucurkan atau meningkat 35 persen setiap tahunnya.

  1. Pengangguran;

Bila ditinjau dari indikator yang kedua yaitu tingkat pengangguran,

  1. Kejadian gizi buruk;

Kucuran Dana Desa selama 4 (empat) tahun juga memiliki andil menurunkan jumlah desa yang memiliki kejadian gizi buruk. Berdasarkan perhitungan BPS, pada tahun 2018, jumlah desa yang memiliki kejadian gizi buruk berkurang cukup signifikan yaitu 29% dari tahun 2014. Hal ini menunjukkan bahwa Dana Desa telah membantu meningkatkan taraf hidup warga desa sehingga lebih banyak lagi desa yang terbebas dari gizi buruk.

  1. Kemiskinan;

Bila ditinjau dari indi­kator kemiskinan, rata-rata tingkat pe­nu­runan kemiskinan per tahun sebelum adanya Dana Desa (2012-2014) adalah sebesar 1,24%, sedangkan setelah Dana Desa dikucurkan (2015-2017) menjadi sebesar 0,33%. Berdasarkan hal tersebut, rata-rata tingkat penurunan kemiskinan per tahun setelah dana desa dikucurkan lebih rendah dibandingkan sebelum adanya dana desa, sehingga dapat disimpulkan bahwa penurunan kemiskinan setelah adanya dana desa belum efektif. Arti­nya dana desa belum mampu mendongkrak daya beli ma­sya­rakat secara sig­ni­fikan.

Berdasarkan hasil pengukuran dari keempat indikator di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa tiga indikator pertama yaitu pendapatan perkapita/bulan, pengangguran, dan kejadian gizi buruk telah menunjukkan hasil korelasi positif. Sedangkan satu indikator lagi yaitu kemiskinan belum menunjukkan hasil korelasi yang positif. Untuk itu, diperlukan evaluasi dan penyempurnaan kembali agar ke depannya Dana Desa dapat memberikan hasil korelasi positif dalam menurunkan tingkat kemiskinan di desa. Secara umum, Dana Desa telah dapat dinyatakan berhasil atau efektif dalam meningkatkan pendapatan per kapita/bulan masyarakat desa, menurunkan tingkat pengangguran di desa, dan menurunkan jumlah desa yang mengalami gizi buruk meskipun masih terdapat kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki. Oleh karenanya, pemerintah tidak boleh berpuas diri tetapi harus terus memperbaiki dan menyempurnakan Dana Desa agar menjadi lebih baik. Eevaluasi dan perbaikan dilakukan secara terus menerus baik dari sisi tata kelola, penggunaan, pertanggungjawaban dan tentu saja jumlah Dana Desa yang digelontorkan. Kita tentu berharap agar pembangunan bangsa ini dapat memberikan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak hanya di kota tetapi juga sampai di desa dengan adanya Dana Desa.

Penulis,

Romeo Junianto (Kepala Seksi Bank Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara Mukomuko)

Tulisan ini merupakan pandangan dan pendapat pribadi, tidak mewakili kebijakan institusi

  • Whatsapp

Berita Terkait

* Belum ada berita terpopuler.

Berita Terpopuler

* Belum ada berita terpopuler.

Index Berita